Menu
Pencarian


Gandrung Sewu 2026 Usung Glow in the Dark, Tradisi Osing Bertemu Teknologi Cahaya

JTV Banyuwangi - Minggu, 25 Oktober 2026 00:44
Gandrung Sewu 2026 Usung Glow in the Dark, Tradisi Osing Bertemu Teknologi Cahaya
Selain pertunjukan kolosal, acara ini juga menampilkan atraksi drone dan penampilan Kunto Aji serta Project Pop.

Festival tari kolosal Gandrung Sewu 2026 kembali digelar di Pantai Boom Marina Banyuwangi, Sabtu (24 Oktober 2026), dengan konsep baru pertunjukan malam Glow in the Dark. Memasuki tahun ke-14 penyelenggaraan, festival ini menghadirkan inovasi melalui perpaduan seni tradisional, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan.

Sebanyak 1.300 penari tampil dalam Gandrung Sewu tahun ini, menghadirkan pertunjukan kolosal yang sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menjaga keberlanjutan seni tradisi Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Gandrung Sewu telah berkembang menjadi panggung kebanggaan daerah sejak pertama kali digelar pada 2012. Festival ini berawal dari upaya mengangkat sejarah Tari Gandrung, sekaligus menjadi ruang untuk merawat tradisi dan memperkenalkan identitas budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

“Selama lebih dari satu dekade, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Boom Marina, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi,” kata Ipuk, Sabtu (24 Oktober 2026).

Perjalanan Gandrung Sewu dimulai melalui tema Jejer Gandrung pada 2012 yang mengisahkan kelahiran Tari Gandrung. Setahun berikutnya, tema Paju Gandrung mengangkat kehidupan dan tradisi pertunjukan Gandrung pada masa lalu. Sejak itu, festival terus berkembang sebagai media pengenalan sejarah dan identitas Banyuwangi.

Pada tahun-tahun berikutnya, Gandrung Sewu menghadirkan beragam tema, mulai dari Seblang Subuh (2014), Podo Nonton (2015), Seblang Lukinto (2016), hingga Kembang Pepe (2017) yang mengangkat kisah perjuangan masyarakat Banyuwangi. Tema Layar Kumendung pada 2018 dan Panji-Panji Sunangkoro pada 2019 mengajak penonton menelusuri sejarah perlawanan terhadap penjajahan.

Pada 2021, tema Gandrung Sewu Nusantara menghubungkan masyarakat Banyuwangi di berbagai daerah hingga luar negeri melalui semangat pelestarian budaya. Setahun kemudian, Sumunare Tlatah Blambangan mengangkat sejarah dan kebangkitan Bumi Blambangan.

Berikutnya, tema Omprog: The Glory of Art pada 2023 menonjolkan mahkota khas penari Gandrung sebagai simbol keagungan seni. Pada 2024, Payung Agung: The Diversity of Culture mengangkat keberagaman dan harmoni budaya Banyuwangi, sedangkan tema Selendang Sang Gandrung pada 2025 membawa pesan tentang warisan budaya, cinta kasih, dan perjuangan masyarakat Osing dalam merawat tradisi.

“Tahun 2026, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar pada malam hari, menghadirkan pengalaman berbeda melalui perpaduan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan,” ujar Ipuk.

Tahun ini mengusung tema Kembang Dermo, yang mengangkat nilai adat dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Banyuwangi. Konsep Glow in the Dark diharapkan menghadirkan pengalaman visual berbeda tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi dasar pertunjukan.

Gandrung Sewu 2026 berkolaborasi dengan InJourney, perusahaan di bawah Danantara yang bergerak di sektor aviasi dan pariwisata. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya InJourney mengembangkan destinasi wisata di berbagai daerah yang terkoneksi dengan penerbangan.

Koordinator Pelatih Tari Gandrung Sewu, Suko Prayitno, mengatakan perubahan konsep ini juga diikuti penyesuaian koreografi agar kilauan cahaya pada kostum penari selaras dengan setiap gerakan. Meski demikian, penyesuaian tersebut tidak akan mengubah pakem Tari Gandrung.

Selain tarian kolosal, acara ini dimeriahkan atraksi drone show serta penampilan spesial dari Kunto Aji dan Project Pop.

Salah satu penari asal Sumatera Selatan, Fitri, mengaku tetap bersemangat mengikuti pertunjukan bersama para penari lainnya. Meski sempat menjadi salah satu korban kebakaran kapal saat perjalanan menuju Banyuwangi, ia siap tampil maksimal.

“Puji Tuhan kami diberi keselamatan. Kami sangat bersemangat untuk tampil di Gandrung Sewu,” kata Fitri.

Tari Gandrung merupakan kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing. Kata gandrung bermakna terpikat atau mencintai, dan dalam perkembangannya tarian ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang diwariskan lintas generasi.

Ipuk menambahkan, Gandrung Sewu tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga sarana regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Melalui perjalanan dari Jejer Gandrung hingga Kembang Dermo, Gandrung Sewu menunjukkan bahwa tradisi terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Inovasi pertunjukan diharapkan mampu memperluas daya tarik seni budaya Banyuwangi sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal generasi mendatang.

Selain tarian kolosal, acara ini dimeriahkan oleh atraksi drone show serta penampilan spesial dari Kunto Aji dan Project Pop.

Handoko Khusumo

Editor : JTV Banyuwangi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.